Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

HADITS MARFU'


BAB l
PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi muhammad saw baik dari perkatan, perbuatan, dan ketetapannya. Hadits diklasifikasikan menurut berapa segi, seperti  sanad, matan, dan diterima atau ditolaknya suatu hadits.
Ditinjau dari segi kepada siapa berita itu disandarkan, apakah disandarkan kepada nabi saw, sahabat, ataukah disandarkan kepada yang lainnya, maka hadits itu dapat di bagi menjadi : 
    1.      Hadits marfu’.
    2.      Hadits mauquf.
    3.      Hadis maqthu’.

PEMBAGIAN HADITS BERDASARKAN KWANTITAS RAWI


KATA PENGANTAR

الّسَّلاَمُ عَلَيكُم وَرَحمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan dan melimpahkan rahmat, hidayat dan inayahnya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar.

Mengingat kurangnya kemampuan dan keterbatasan penulis dalam menyelesaikan makalah ini, penulis meyakini bahwa tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Atas bimbingan dan bantuan tersebut tiada yang dapat penulis ucapan salain ucapan terima kasih, kepada:

Minggu, 15 Desember 2013

Hadits Dha'if



BAB I
PENDAHULUAN
   A.    Latar Belakang
               Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat rumit dan menyisakan banyak problematika ditengah-tengah umat, juga merupakan bagian dari ilmu yang harus diketahui dan dipelajari oleh segenap kaum muslim, karena dewasa ini banyak kita temukan sekelompok orang yang tidak bisa dikatakan kredibel dalam bidang ilmu ini dengan sangat yakin melontarkan hadits demi hadits untuk menjustifikasi apa yang dia lihat tanpa memperhatikan aspek apa saja yang harus dilalui. Seperti halnya bagian dari pembahasan yang ada di dalam ilmu hadits ini, yaitu hadits dha’if, banyak di antara aliran kepercayaan yang tanpa “tedeng aling-aling” melontarkan pernyataan bahwa hadits dha’if tidak bisa dijadikan hujjah, apapun bentuknya dan apapun kasusnya. Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari hadits dha’if agar tidak mudah terjebak dengan pemahaman-pemahaman yang penuh dengan pertentangan menurut disiplinnya.