Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hadits. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Juli 2015
Kamis, 15 Mei 2014
Kamis, 01 Mei 2014
HADITS MARFU'
BAB l
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, hadits adalah segala sesuatu yang
disandarkan kepada nabi muhammad saw baik dari perkatan, perbuatan, dan
ketetapannya. Hadits diklasifikasikan menurut berapa segi, seperti sanad, matan, dan diterima atau ditolaknya
suatu hadits.
Ditinjau dari segi kepada siapa berita itu disandarkan, apakah
disandarkan kepada nabi saw, sahabat, ataukah disandarkan kepada yang lainnya,
maka hadits itu dapat di bagi menjadi :
1.
Hadits
marfu’.
2.
Hadits
mauquf.
3.
Hadis
maqthu’.
PEMBAGIAN HADITS BERDASARKAN KWANTITAS RAWI
KATA PENGANTAR
الّسَّلاَمُ
عَلَيكُم وَرَحمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillah segala
puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan dan
melimpahkan rahmat, hidayat dan inayahnya kepada penulis sehingga penulis bisa
menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar.
Mengingat kurangnya
kemampuan dan keterbatasan penulis dalam menyelesaikan makalah ini, penulis
meyakini bahwa tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak. Atas bimbingan dan bantuan tersebut tiada yang dapat
penulis ucapan salain ucapan terima kasih, kepada:
Minggu, 15 Desember 2013
Hadits Dha'if
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat
rumit dan menyisakan banyak problematika ditengah-tengah umat, juga merupakan
bagian dari ilmu yang harus diketahui dan dipelajari oleh segenap kaum muslim,
karena dewasa ini banyak kita temukan sekelompok orang yang tidak bisa
dikatakan kredibel dalam bidang ilmu ini dengan sangat yakin melontarkan hadits
demi hadits untuk menjustifikasi apa yang dia lihat tanpa memperhatikan aspek
apa saja yang harus dilalui. Seperti halnya bagian dari pembahasan yang ada di
dalam ilmu hadits ini, yaitu hadits dha’if, banyak di antara aliran
kepercayaan yang tanpa “tedeng aling-aling” melontarkan pernyataan bahwa
hadits dha’if tidak bisa dijadikan hujjah, apapun bentuknya dan
apapun kasusnya. Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari hadits dha’if
agar tidak mudah terjebak dengan pemahaman-pemahaman yang penuh dengan
pertentangan menurut disiplinnya.
Langganan:
Postingan (Atom)