Senin, 12 Mei 2014

Sejarah Perkembangan Tasawuf



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kehidupan sufi sudah terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum diangkat menjadi rasul pun beliau sudah sering melakukan kegiatan sufi dengan melakukan uzlah di gua Hiro’ sampai beliau menerima wali pertama.
Perkataan tasawuf atau sufi belum dikenal pada zaman nabi ataupun zaman sahabat-sahabatnya. Tetapi perkataan dan perbuatan yang dikerjakannya sudah mencerminkan kehidupan sufi.
Menurut catatan sejarah, sahabat yang pertama kali memfilsafatkan ibadah dan menjadikan ibadah secara satu “thariqah” yang khusus adalah khudzaifah bin Al-Yamani dan dialah yang pertama kali mendirikan madrasah tasawuf tetapi belum terkenal dengan nama “tasawuf”.

Imam sufi yang pertama dalam sejarah islam adalah Al-Hasan Al-Basry. Dia adalah seorang murid pertama dari Hudzaifah bin Yamani. Sedangkan, tokoh sufi dari kalangan ahlul bait adalah Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi tholib, dan Ja’far As-Shodiq.

B.     Rumusan Masalah
  1.      Bagaimana perkembangan tasawuf dari abad 1 sampai sekarang?
  2.      Siapa tokoh tasawuf disetiap abad?
  3.      Apa saja aliran-aliran dalam tasawuf?

C.    Tujuan Masalah
  1.      Mengetahui perkembangan tasawuf dari abad 1 sampai sekarang
  2.      Mengetahui tokoh tasawuf disetiap abad
  3.      Mengetahui aliran-aliran dalam tasawuf




PEMBAHASAN


SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF

Ibnu al-jauzi dan ibnu kholdun secara garis besar kehidupan kerohanian dalam islam terbagi menjadi dua yaitu zuhud dan tasawuf. Keduanya merupakan istilah baru karena belum ada pada Muhammad SAW.
Tasawuf islam, pada taraf yang pertama berdasar dan bersumberkan kepada peri hidup Rasulullah. Bahwa tasawuf pada masa Rasulullah SAW adalah sifat umum yang terdapat pada seluruh sahabat-sahabat Nabi tanpa kecuali. Sedikit demi sedikit lahirlah filsafat ibadah dan penyelidikan mendalam pada cara ini, dan bersamaan dengan itu lahirlah mazhab-mazhab Rohaniyah yang mendalami dan ini semua termasuk dalam kata tasawuf adanya.Yang pertama member dasar tentang tasawuf, ialah Nabi Muhammad SAW, berupa syari’at pada umumnya dan dengan ilham kepada orang-orang khususnya.
Istilah tasawuf pada masa beliau adalah sahabat, panggilan kehormatan bagi pengikutnya. Mereka orang-orang yang terhindar dari sifat syirik dan pola kehidupan jahiliyah, selalu mendengar dan meresapi Al-Qur’an. Ada istilah baru muncul yaitu muhajir dan ansor, istilah tersebut muncul ketika beliau bersama para sahabat hijrah keMadinah.
Ketika islam berkembang dan terjadi perkembangan strata social, muncul istilah baru dikalangan sahabat yaitu Quro’, AhluAssufah, serta fuqoro’. Masa Khulafaur Rosyidin ketiga, istilah quro’ sebagai panggilan bagi pengkaji Al-Qur’an. Pada masa kholifah keempat muncul istilah mu’tazilah, bersamaan dengan itu muncul istilah khowarij, mereka semua kelompok zuhut yang umumnya disebut quro’. Setelah kematian Ali dan Husain muncul istilah Tawwabin, Qossos, Nussak, Rabbaniyah, dan sebagainya.
Telah diketahui sejarah islam ditandai dengan peristiwa tragis yaitu pembunuhan terhadap kholifah Usman bin Affan RA. Dari peristiwa tersebut secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlak. Hal ini menyebabkan para sahabat yang masih ada dan para pemuka islam yang mau berfikir, berikhtiyar rmengembalikan ajaran islam, iktikaf, mendengarkan kishoh mengenai targib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya. Inilah benih tasawuf yang paling awal.


A.            Masa Pembentukan

Tasawuf berasal dari kehidupan Rasulullah. Berkatalah Syeh Abdul Baqy Surur, bahwa tahannus Rasulullah di Goa Hira, merupakan cahaya-cahaya pertama dan utama bagi nur tasawuf atau itulah benih-benih pertama bagi kehidupan rohaniyahyang disebut dengan ilham hati atau renungan-renungan rohaniyah.
Dalam hal ini, maka ahli-ahli tasawuf memandang pekerjaan Rasulullah sehari-hari merupakan dasar ilmu tasawuf. Oleh karena itu mereka memandang Rasulullah imam besar dan guru pertama dari tasawuf.    
Abad 1 H bagian kedua Hasan Basri dengan ajaran khouf tampilnya guru-guru yang lain yang dinamakan qori’ mengadakan gerakan yang memperbaharui hidup kerahanian dikalangan kaum muslimin. Telah dianjurkan mengurangi makan, menjauhkan diri dari karamain duniawi, mencela dunia. Anjuran tersebut menyimpulakan bibit tasawuf sudah ada sejak itu.
Abad II H tasawuf tidak banyak berbeda dengan abad sebelumnya. Persamaannya terdapat dalam corak kezuhudan, namun penyebabnya berbeda. Penyebab pada abad ini adalah adanya kenyataan pendangkalan ajaran agama dan formalisme dalam melaksanakan syariat agama.
Abu al-wafak menyimpulkan zuhud islam abad 1 dan 2 H mempunyai karakter yaitu:
  a)      Menjauhkan diri dari dunia menuju akhirat yang berakal pada nas agama, yang dilator belakangi sosio-politik.
  b)      Masih bersifat praktis.
  c)      Motif zuhutnya adalah rasa takut.
  d)     Menjelang akhir abad 2 H, sebagian zahid menandai analisis yang dipandang sebagai fase pendahuluan   tasawuf atau cikal bakal pendirita sawuf falsafi abad III dan IV H.
Pada abad ke 1 dan II H terdapat aliran-aliran tasawuf   :
  A.    Aliran Madinah
Para sufi berpegang teguh pada Al-qur’an dan sunah,menetapkan Rasulullah sebagai panutan kezuhudannya. Sahabat yang mengikuti Rasulullah bertasawuf pada abad ini adalah:
§  Abu bakar Ash shidiq (W.13H)
§  Umar bin khatab (W.23H)
§  Ustman bin Affan (W.35H)
§  Ali bin Abi Thalib (W.40H)
§  Salman Al-farisi (W.32H)
§  Abu Dzar Al-Ghifary (W.22H)
§  Ammar bin Yasir (W.37H)
§  Hudzaifah bin Al-Yaman (W.36H)
§  Al-Miqdad bin Al-aswad (W.33H)

  B.     Aliran Basrah
Louis masignan mengemukakan bahwa pada abad 1 dan 2 H terdapat 2 aliran asketisme islam yang menonjol yaitu basrah dan khufah. Dengan tokoh sufi dari aliran basrah :
·      Al-Hasan Al-Bashry (22 H-110 H)
·      Rabiah Al-adawiyah (96 H-185 H)
·      Malik bin Damar (w.131 H)

  C.     Aliran Khufah
Aliran ini bercorak idealistis, menyukai hal-hal aneh dalam nahwu, imajinasi dalam puisi, harfiah dalam hadist, dan kecenderungan pada aliran syi’ah dan murji’ah. Tokoh-tokohnya:
§  Sufyan Ats Tsaury (97H-161H)
§  Ar-rabi’ bin Khatsim (W.67H)
§  Sa’id bin Jubair (W.95H)
§  Thawus bin Khisan (W.106H)

  D.    Aliran Mesir
Tokohnya        :
§  Salim bin ‘Atar At-Tajibi (W.75H)
§  Abdurrahman bin Hujairah (W.69H)
§  Nafi’ (W.117H)
§  Al-laits bin Sa’ad (W.175H)
§  Hayah bin Syuraih (W.158H)
§  Abdullah bin Wahab (W.197H)

B.     Masa Pengembangan

Abad III dan IV H corak tasawuf sangat berbeda dengan abad sebelumnya. Pada abad ini tasawuf bercorak kefanaan, yang menjurus kebersatuan hamba dengan kholik. Abu yazid Al-Bustami adalah seorang sufi dari Persia yang pertama kali mempergunakan istilah fanak dan memasukkan ide wahdatul wujut. Beberapa pandangan Abu Yazid antara lain, artinya: “Aku keluar dari yang haq kepada yang haq sehingga dia berteriak hei zad kau adalah aku”.
Fanak merupakan persyaratan bagi seseorang untuk dapat mencapai hakikat ma’rifat. Sesudah Abu Yazid Al-Bustami lahirlah seorang sufi yaitu Al-Halaj dengan teorinya Al-Hulul. Menurutnya manusia mempunyai dua sifat yakni sifat kemanusiaan dan sifat ketuhanan dalam dirinya. Pencampuran antara ruh dengan tuhan diumpamakan oleh Al-Halaj bagaikan bercampurnya air dengan khomer.
Pada akhir abad III orang-orang berlomba menyatakan pemikirannya tentang kesatuan kesaksian,  kesatuan kejadian, kesatuan agama, dansebagainya. Yang semua itu tidak mungkin dicapai oleh para sufi kecuali dengan latihan yang teratur.
Pada abad III Dan IV H ini bisa dibilang bahwa perkembangannya telah mencapai kesempurnaan. Tokoh abad ke III, yaitu   :
  o   Abu Sulaiman Ad-Darani (W.215 H)
  o   Ahmad bin Al-Hawary Ad-Damasqiy (W.230 H)
  o   Dzun An-Nun Al-Misri (155 H-245 H)
  o   Abu Yazid Al-Bustami (W.261H)
  o   Junaid Al-Baghdadi (W.298 H)
  o   Al-Hallaj (lahir tahun 244 H)
Tokoh abad IV :
 §  Musa Al-Anshary (W.320 H)
 §  Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy (W.322 H)
 §  Abu Zaid Al-Adamy (W.314 H)
 §  Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab As-Saqafy  (W.328 H)

Kemudian datanglah Junaidi Al-bardadi dengan dasar-dasar ajaran taawuf dan tarikah. Dengan demikian tasawuf abad III dan IV H telah berkembang Abu Al-Wafa’ menyatakan bahwa tasawuf pada abad III dan IV H mengarah pada cirri psikocoret moral dan perhatiannya diarahkan pada moral tinggah laku.
Abad III dan IV H terdapat dua aliran, yaitu: tasawuf suni, dan tasawuf senifalsafi.

C.          Masa Konsolidasi

Pada abad V H mengadakan konsolidasi dimasa ini ditandai kompotensi dan pertarungan antara suni dan semi falsafi yang di menangkan oleh tasawuf suni dan dapat berkembang. Kemenangan ini dikarenakan teologi ahlisunnah wal jama’ah  yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asy’ari, yang mengadakan kritik pedas terhadap teori Abu yazid Al-Bustami dan Ahlaj. Al-qusyairi adalah seorang tokoh sufi pertama abad V H, dia berusaha mengembalikan tasawuf pada landasannya Al-Qur’an dan Hadis.
Tokoh abad V H   :
  o   Al-Qusyairi (W.465 H)
  o   Al-Harawi (lahir 396 H)
  o   Al-Ghazali (W.405 H)

D.    Masa Filsafi

Tasawuf falsafi muncul pada abad VI H, Ibn Kholdun menyimpulkan bahwa tasawuf filsafi mempunyai 4 obyek utama, yaitu:
  a)      Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi serta introspeksi yang timbul darinya.
  b)      Illuminasi atau yang tersingkap dari alam ghaib.
  c)      Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
  d)     Pemakaian ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syathahiyat).
Abad VI dilanjutkan abad VII H muncul orde-orde sufi kenamaan.

Tokoh abad VI      :
·         As-Suhrawardi Al-matul (W.587 H)
·         Al-Ghasnawy (w.545 H)

E.     Masa Kemurnian

         Pengaruh dan praktik kian tersebar luas melalui tarekat para sultan. Tasawuf pada masa itu ditandai bid’ah, khurufat, mengabaikan syari’at dan hukum-hukum moral dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, berbentengkan diri dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas, denagn menampilkan amalan yang irrasional. Azimat dan ramalan serta kekuatan ghaib ditonjolkan.
Tokoh abad VII    :
·         Ibnul farid
·         Ibnu Sabi’in
·         Jalaluddin Ar-Rumy
Pada abad ini ahli tasawuf bergerak dalam kegiatan yang dirahasiakan sehingga pemerintah sangat mengkhawatirkan hal itu. Untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat pemerintah menjalankan kewenangannya yang berakibat tertangkapnya para sufi dan beberapa diantaranya melarikan diri ke Negara lainsehingga negeri Arab dan Persia sunyi dari kegiatan ahli tasawuf.
      Ibn Taimiyah membagi fanak menjadi 3 bagian, yaitu:
  a)      Fanak Ibadah, yakni fanak dalam beribadah.
  b)      Fanak Syuhud Al-Qolb, yakni fanak pandangan hati.
  c)      Fanak Wujud Ma Siwa Allah, yakni fanak wujud selain Allah.

Ibn taimiyah lebih cenderung bertasawuf sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah yakni menjelaskan dan menghayati ajaran islam, tanpa embel-embel lain, tanpa mengikuti aliran tarekat tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan social, sebagaimana manusia pada umumnya. Tasawuf model ini yang cocok untuk dikembangkan dimasa modern seperti sekarang.
Terlewatnya abad VII H dan memasuki abad VIII tidak terdengar perkembangan atau pemikiran baru dalam tasawuf. Pada abad ini ada seorang tokoh yang berusaha memurnikan ajaran tasawuf dari unsur-unsur falsafat yaitu Ibnu Tamiyah.

Abad IX, X dan sesudahnya.
Dalam beberaa abad ini, ajaran tasawuf mulai memudar di dunia islam. Peneliti muslim menarik kesimpulan bahwa ada 2 faktor yang sangat menonjol penyebab runtuhnya pengaruh ajaran tasawuf di dunia islam          :
  a.       Ahli tasawuf kehilangan kepercayaan dikalangan masyarakat islam karena beberapa diantara mereka terlalu menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya.
  b.      Penjajah bangsa Eropa yang beragama Nasrani telah menguasai seluruh negeri islam.
Ahli tasawuf pada abad IX dan sesudahnya        :
·         Abdul Wahab Asy-Sya’rany (898-973)
·         Abdul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar At-Tijany (1150-1230 H)
·         Sidi Muhammad bin Ali As-Sanusy (lahir tahun 1206 H)
·         Asy-Syekh Muhammad Amin AL-kurdi (W.1332 H)
Masa kejayaan tasawuf terjadi sekitar abad II, III, IV H dan masa kejayaan tersebut tidak bisa dicapai hingga sekarang. Namun ajaran tasawuf tetap hidup karena tasawuf adalah suatu unsure dari ajaran islam, namun terkadang disalah gunakan  oleh orang-orang tertentu. Akibatnya citra tasawuf dimata masyarakat muslim menjadi rusak.




PENUTUP

KESIMPULAN

         Kehidupan sufi sudah terdapat pada diri nabi dan kehidupan sehari-hari beliau. Tetapi kata tasawuf belum muncul pada saat itu. Sahabat nabi yang pertama kali mempelajari tentang filsafat ibadah dan menjadikan ibadah secara satu tariqah yang khusus adalah Hudzaifah bin Al-Yamani. Hudzaifah pula yang pertama kali mendirikan madrasah tasawuf.
Dari madarsah tasawuf tersebut, lahir lah imam sufi yang pertama yang bernama Al-Hasan Al-Basri. Dan dari Hasan Al-Basri muncullah ilmu tasawuf yang diajarkan di madrasah yang ia pelopori.disusul dengan berdirinya madrasah Sa’id bin Musayyab di Irak dan diteruskan dikurasan Persia.
Dengan meluasnya ilmu tasawuf maka hancur lah gerakan ilhad tau ateis. Dalam perluasan ilmu tasdawuf terdapat beberapa aliran. Dan dari aliran-aliran tersebut, tasawuf tersebar diseluruh dunia.




DAFTAR PUSTAKA

   Prof. Dr. Amin Syukur, MA. Intelektualisme Tasawuf, cetakan pertama, (Semarang, pustaka pelajar, Januari 2002), hal.17-33
   Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Islam Tasawuf, PT. Bwa Ilmu, hal.152
  Ust Labib MZ dan Drs. Moh. Al-‘Aziz, thashawwuf danjalan hidup para wali, cetakan pertama, (Surabaya, Bintang Usaha Jaya, 2000), hal.40-54
Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, akhlak tasawuf, cetakan kesepuluh, (Bandung, Pustaka Setia,  2010), hal.165-194

1 komentar:

Tinggalkan Komentar anda di sini